Srataegi matang untuk atasi rintangan

Untuk mewujudkan cita-cita pembangunan infrastruktur, ada berbagai tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Di antaranya revisi regulasi pembebasan lahan, mengoptimalkan public private partnership, penyerapan anggaran daerah, efisiensi birokrasi tender, pemberdaayaan barang modal domestik, partisipasi daerah secara internal, dan mengurangi inefisensi biaya domestik. Tantangan ini tidak mudah, namun bukan alasan untuk tidak memulai pembangunan infrastruktur mulai hari ini juga. Sebaiknya, tantangan yang ada harus menjadi pemicu dan penyemangat sehingga terjadi akselerasi pembangunan, yang hasilnya akan akita nikmati bersama.

Membangun cerdas, dahulukan prioritas

Tantangan pembangunan infrastruktur begitu besar, maka hal yang logis dilakukan adalah membuat prioritas dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, masalah-masalah pembangunan yang penting harus didahulukan sehingga mendapat perhatian paling utama. Hal ini menjadi penting mengingat pembangunan tersebut kini difokuskan di luar jawa dengan maksud menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru sehingga meningkatkan kontribusi perekonomian di luar jawa terhadap produk bruto nasional. Inilah bentuk perwujudan Indonesia sebagai negara kepulauan yang bukan merasa laut sebagai pemisah, namun justru menjadi penyatu, dengan pembangunan infrastruktur menjadi perekatnya. Seluruh upaya pembangunan harus bisa dirasakan manfaatnya di tiap daerah secara merata

Meningkatkan sekaligus memberi manfaat

Bukti adanya keseriusan pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dalam pembangunan infrastruktur bisa dilihat dari besarnya anggaran yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam APBN 2016, anggaran yang sangat besar dialokasikan ke berbagai kementrian, diantara kementrian perhubungan, kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat, kementrian energi dan sumber daya mineral, dan lainnya. Cita-cita peningakatan anggaran pembangunan infrastruktur yang telah dari dulu diperjuangkan, kini menjadi kenyataan dengan berkurangnya presentase alokasi belanja wajib, contohnya dalam bentuk biaya subsidi yang harus di tanggung dari tahun ke tahun. Dengan langkah berani mengurangai subsidi BBM, misalnya, maka terciptanya ruang fiksal yang yang lebih lapang untuk dialokasiakan menjadi pembangunan infrastruktur.