Belum pulihnya perekonomian global menimbulkan dampak serius bagi penggerak roda ekonomi indonesia. Hal ini di sebabkan oleh posisi indonesia sebagai pengekspor yang akan banyak terpengaruh kondisi negara-negara tujuan ekspor. Jika kondisi negara-negara ini melemah, maka permintaan impornya juga otomatis akan menurun sehingga indonesia akan merasakan imbas langsungnya. Namun sekaligus momentum bagi indonesia untuk membenahi mesin pertumbuhsn ekonominya sendiri supaya tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada kondisi beberapa negara saja. Lebih jauh lagi kita harus membenahi agar tidak lagi mengandalkan ekspor komoditi saja, namun juga ekspor barang jadi, yang diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur dan fasilitas penunjang lainnya sehingga akhirnya mendorong hilirisasi industri dan terciptanya lapangan kerja baru. Inilah wujud nyata kemerdekaan indonesia, sat kita tidak lagi menggantungkan diri kepada harga komuditas, namun mampu mengolahnya agar memiliki nilai tambah yang menguntungkan bagi seluruh rakyat.

Optimis ekonomi terdorong investasi

Investasi merupakan salah satu pendorong roda perekonomian. Dengan adanya investasi, memungkinkan terjadinya pengembangan skala usaha atau pendirian usaha baru sehingga pertumbuhan ekonomi terjadi dengan stabil dan terus berkelanjutan. Karena itulah pemerintah selalu berkepentingan untuk mendorong investasi di indonesia. Secara keseluruh Indonesia dengan provinsi Sumatra Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI jakarta dan Kalimantan Timur sebagai investasi selama tahun 2015. Hal ini melanjutkan peningkatan realisasi investasi dari tahun ke tahun, secara tidak langsung juga membuktikan kepercayaan dunia usaha internasional terhadap Indonesia di masa kelesuan ekonomi global yang sesdang terjadi.

Kontribusi tak kenal resesi

Ditengah pelambatan ekonomi global, minat wisatawan mancanegara terhadap indonesia tidak berkureang, bahkan terus meningkat secara konsisten. Tak hanya jumlah kunjungan, pengeluaran wisatawan mancanegara pun meningkat pesat. Karena itu, pariwisata adalah salah satu andalan untuk meraup devisa sebanyak-banyaknya dalam kondisi resesi sekalpun. Pada tahun 2014 yang mencatatkan angka 9,4 juta kunjungan dan 2013 sebesar 8,8 kunjungan dengan pemasukan devisa sebesar US$ 10.054,15 juta. Untuk mewujudkan target tersebut, diperlukan kerja keras dan strategi yang tepat. Indonesia harus mengenali daya tarik wisata dan target negara yang menjadi sumber wisatawan. Tercatat Bandara Ngurah Rai Bali, Soekarno-Hatta Jakarta dan Hang Nadim Batam menjadi bandara dengan jumlah wisataawan mancanbegara terbesar. Sementara dari sisi negara asal wisatawan, tercatat Singapura, Malaysia dan Australia adalah tiga negara terbesar yang penduduknya meminati wisata ke Indonesia.