Merdeka dari belenggu keterbelakangan

Agustus adalah bulan istimewa, karena di bulan inilah seluruh rakyat merasakan kebanggan sebagai negara merdeka. Namun sudah seharusnya hal ini tidak berhenti pada seremonial upacara dan perayaan saja. Kemerdekaan harus di wujudkan dalam berbagai upaya untuk kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia dari keterbelakangan. Prinsip persatuan dan kesatuan, serta rasa keadilan bagi keseluruhan indonesia harus ditonjolkan, tanpa membeda-bedakan lokasi, jarak, perbedaan etnis dan suku bangsa. Cita-cita untuk kemerdekaan bangsa dalam dalam bentuk pembukaan akses telekomunikasi dan trasnportasi, pembangunan infrastuktur dan pemberatasan pembajakan atas hak cipta. Sehingga di masa depan kita bisa menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya, kemerdekaan dari keterbelakangan, kebodohan, penindasan dan kemiskinan. Mimpi inilah yang sejak dahulu di perjuangkan oleh para pendiri bangsa.

 

Kerja keras bangun kemerdekaan sesungguhnya

Seluruh cita cita Indonesia tidak akan terwujud tanpa adanya nilai persatuan, kerja keras dan gotong-royong yang telah ditanamkan sejak awal lahirnya Republik ini. Tidak ada hal gratis yang bisa kita nikmati tanpa usaha dan kerja keras. Sikap malas, terpecah belah, dan egosentris telah terbukti mengantarkan indonesia kepada ratusan tahun masa penjajahan bangsa asing, mulai dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris hingga Jepang yang semuanya memamfaatkan kelemahan yang tertanam di dalam jiwa bangsa kita di masa lalu.

Hanya dengan cara mengubahnya secara total menjadi semangat yang positif, Bangsa Indonesia bisa meraih kemerdekaan yang sesungguhnya dengan kerja keras, Bangsa Indonesia bukan saja terbatas dari penjajahan bangsa asing, namun juga akan memiliki kemerdekaan untuk meraih hidup sejahtera, mandiri, dan memiliki kemampuan menentukan nasib sendiri.

 

Dari semangat untuk setara, menuju persatuan Indonesia

sesuai dengan semangat persatuan indonesia, kemerdekaan republik indonesia dirayakan dengan cara istimewa, yaitu di beberapa tempat sekaligus dalam dalam satu rangkaian perayaan. Dengan demikian, seluruh Indonesia merasa terlibat dalam kebanggaan menjadi satru bangsa yang utuh. Perayaan kemerdekaan Indonesia dimulai dari ujung paling Barat Indonesia, tugu nol kilometer, Sabang, Aceh, titik paling utara, Pulau Miagas, Sulawesi Utara, kota di garis katulistiwa, Pontianak, titik paling selatan, Pulau Rote, Nusantara Timur, hingga titik paling Timur, Merauke, Papua. Dengan demikian, terlihat komitmen besar untuk memandang indonesia sebagai sebuah negara kesatuan yang tidak lagi terpisah dan tidak lagi terpisah dan tidak di warnai kecemburuan antar satu daerah dengan yang lain. Indonesia merayakan kemerdekaanya dalam semangat persatuan dan seruan “Ayo Kerja”

 

Membangun Indonesia dari pintu terdepan

Pembangunan kini di upayakan agar tidak hanya di rasakan oleh satu daerah atau pulau tertentu, namun merata di seluruh wilayah tanah air. Saat ini saja, ada 13 kabupaten terluar yang berbatasan dengan laut dan 14 kabupaten terluar berbatasan dengan darat, tersebar menjadi 3.591 desa tertinggal di perbatasan dari total 39.086 desa tertinggal secara keseluruhan. Mayoritas desa dengan kriteria ini belum mampu menyediakan standar pelayanan minimun untuk aspek kebutuhan sosial, infrastuktur, sarana, pelayanan umum dan penyelenggaraan pemerintahan. Jumlah ini sangat signifikan jika di bandingkan dengan total 74.094 desa yang ada di indonesia, sehingga membutuhkan perhatian besar tanpa membeda-bedakan jarak, lokasi, dan etnis yang mendiaminya. Karena itu, kita harus menyadari potensi yang ada di plosok dan perbatasan sekaligus memperbaiki ketertinggalan yang di rasakan oleh penduduknya. Ini adalah wujud dari Nawa Cita ketiga, yakni membangun indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatauan.