Benahi kesejahteraan sejak usia muda

Kesejahteraan bukan hanya hak bagi warga negara yang telah dewasa. Bayi dan anak-anak sekalipun mendapat perhatian dan perbaikan atas nasibnya. Salah satunya adalah hak atas pemenuhan kebutuhan akan gizi yang berkualitas. Sehingga generasi muda kita bisa tumbuh kembang secara optimal, tidak mengalami ketertinggalan akibat hambatan pertumbuhan fisik dan mentalnya. Karena itu, pemerintah semakin gencar mensosialisasikan konsep 1000 hari pertama kehidupan. Konsep ini memberikan kesadaran pentingnya memperhatikan asupan gizi dan tumbuh kembang anak sejak hari pertama berada di kandungan hingga berusia dua tahun. Orang tua di minta dan di bimbing untuk memperhatikan keadaan anaknya dalam periode emas ini.

 

Membangun masa depan dari yang paling sederhana

Gizi buruk adalah kondisi yang masih di hadapi oleh anak-anak indonesia di berbagai daerah. Ini adalah sebuah tantangan yang harus dipecahkan bersam agar mereka bisa berkembang optimal, menyerap pelajaran dengan baik, dan saat dewasa mempunyai fisik yang menunjang aktivitasnya. Kondisi gizi buruk bisa terjadi akibat penyakit, kurangnya asupan gizi, tak tersedianya pangan yang di butuhkan, burukny asanitasi dan pelayanan kesehatan dasar, serta pola asuh yang tidak memadai. Untuk itu, dibutuhkan upaya untuk memperbaikinya, yang antara lain di wujudkan melalui deteksi dini, pemberian makanan tambahan, peningkatan kemampuan dan ketrampilan orangtua, serta memberi suplemen gizi.

 

Bom waktu yang siap menjadi bencan bagi generasi muda

Cerminan gizi buruk bisa terlihat dari tiga gejala, yaitu kurus (wasting) sebanyak 17,4 persen, pendek (stunting) sebanyak 37,2 persen, dan berat kurang (underweight) sebanyak 19,6 persen. Angka ini jelas tidak menggebirakan. Untuk kategori berat kurang misalnya, masih belum mencapi target Millenium Development Goals yang mengamanatkan seharusnya paling tidak 15,5 persen atau kurang. Problem ini adalah bom waktu yang mengancam kualitas manusia indonesia pada saat mereka dewasa nanti, karena mereka tidak bisa optimal menyalurkan potensinya dan menghambat pengembangan dirinya. Inilah kondisi yang harus kita pecahkan bersama untuk masa depan indonesia.

 

Membenahi masalah hingga lapis terbawah

Dari kondisi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka pemerintah tidak tinggal diam begitu saja. Berbagai upaya telah dan sedang di lakukan agar problem gizi buruk bisa teratasi. Salah satunya melalui program bina gizi dan KIA 2015. Program ini melaksanankan berbagai upaya antara lain pembinaan gizi masyarakat, pembinaan kesehatan bayi, anak, dan remaja, pembinaan kesehatan ibu dan reproduksi, pembinaan upaya kesehatan kerja dan olahraga, pembinaan kesehatan tradisional dan koplementer, dukungan menejemen dan pelaksanaan tugas teknis lainya, serta bantuan operasional kesehatan (BOK). Dengan adanya program ini, di harapkan terjadi perbaikan signifikan terhadap kondisi gizi buruk yang terjadi di berbagai daerah.

 

Detik-detik kehidupan pertama yang begitu berharga

Dalam upaya mengkomunikasikan pentingnya memperhatikan gizi anak usia dini, maka belakangan kerap didengungkan istilah 1000 hari pertama kehidupan.dalam masa 1000 hari pertama ini, terjadi periode emas pertumbuhan otak seorang manusia, yang akan mendorong pertumbuhan fisik dan mental secara keseluruhan dan menetukan kehidupan manusia. Periode emas 1000 hari pertama ini di mulai dari masa kehamilan, kelahiran, menyusui, hingga pada waktunya menyapih pada usia 2 tahun. Jika di masa ini terjadi kekurangan gizi, maka anak akan mengalami kerugian luar biasa dalam pertumbuhannya, antara lain terhambatnya perkembangan otak, fisik pendek, lemah dan mudah sakit, serta sulit mengikuti perkembangan sekolah.

 

Mengatasi sebelum terjadi

Kondisi gizi buruk tidak bisa di tunggu hingga berlarut-larut, baru kemudiaan di tangani. Sebaiknya, sedari awal sudah harus di tangani dengan konsisten agar anak-anak tidak terlanjur menjadi generasi yang hilang atau the lost generation. Jika hal tersebut terjadi, maka akan menjadi kerugian besar bagi pembangunan Indonesia. Sehingga upaya mensejahterakan rakyat di bidang lainnya menjadi sia-sia karena tidak mampu dinikmati secara optimal oleh penerus kita. Untuk itu, dalam RPJMN III tahun 2015-2019, upaya-upaya kesehatan difokuskan kepada akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, dengan prioritas utama upaya promotif-preventiv dengan demikian, kondisi ini bisa ditangani sejak awal agar kesejahteraan masyarakat meningkat, yang pada ujungnya semakin menekan jumlah kasus gizi buruk secara berkelanjutan.